Anda setuju dengan Blog ini ? Kalau ya, silahkan Klik !

Selasa, 15 Juni 2010

Download Perhitungan Awal Bulan

BENDA-BENDA LANGIT

Benda-benda langit yang dimaksud adalah Bumi, Bulan dan Matahari.

1. Gerak Bumi

A. Rotasi

Gerak bumi berputar pada porosnya disebut gerak rotasi bumi. Arah berotasi dengan arah dari barat ke timur. Periode rotasi bumi adalah 23 jam 56 menit 4 detik. Akibat rotasi bumi:

- Gerak harian benda langit dari timur ke barat (terbit dari timur terbenam di barat, terjadinya pergantian siang dan malam).

- Terjadi pepatan bumi di arah kutubnya (momentum sudut lebih besar pada daerah equator).
- Efek coriolis pada arah angin.
- Perubahan arah ayunan bandul.
- Perubahan arah arus laut sepanjang equator bumi.

B. Revolusi Bumi

Gerak bumi mengedari matahari disebut gerak revolusi bumi. Bidang orbit bumi mengedari disebut bidang ekliptika, letaknya miring 23,5° terhadap bidang equator langit (perpanjangan bidang equator bumi). Periode revolusi bumi = 365,25 hari. Gerak revolusi bumi disebut juga gerak tahunan bumi atau gerak annual. Akibat gerak revolusi bumi:

- Gerak semu tahunan matahari di daerah zodiac. Gerak harian matahari terlambat 4 menti dari bintang setiap harinya, atau bergeser kea rah timur sebesar satu derajat (1°) busur di latar belakang bintang-bintang di daerah zodiac.

- Terjadinya parallax bintang.

- Terjadinya pergantian musim di permukaan bumi akibat kemiringan sumbu bumi sebesar 66.5° terhadap bidang peredarannya (bidang ekliptika).

C. Presesi dan Nutasi

Gerak presesi bumi disebut juga gerak gasing bumi, ialah perputaran sumbu rotasi bumi mengedari sumbu bidang ekliptika. Periode gerak presesi bumi = 26.000 tahun. Terjadi akibat kemiringan sumbu bumi terhadap bidang ekliptika sebesar 66.5°. matahari berusaha menarik bulatan bumi untuk jatuh ke bidang ekliptika, namun karena bumi berotasi, akibatnya sumbu bumi berputar bagaikan sebuah gasing yang mau jatuh. Akibat gerak presesi bumi:

- Kutub langit utara dan selatan tidak tetap letaknya, selalu berpindah karena memutari kutub ekliptika dengan periode 26.000 tahun.
- Koordinat seluruh benda langit selalu berubah untuk jangka waktu panjang. Letak matahari dari titik Aries (titik hammal) berpindah letaknya di zodiac kea rah barat (mundur) dengan periode 26.000 tahun. Setiap zodiac ditempuh sekitar 200 tahunan.
- Lingkaran gerak presesi bumi tidak mulus, melainkan bergelombang dengan periode gerak gelombangnya 19 tahun. Gerak gelombang ini disebut gerak nutasi . Gerak nutasi terjadi akibat pengaruh bulan yang berusaha menarik bumi ke bidang orbit bulan. Bidang orbit bulan miring 5,2° terhadap ekliptika.

2. Gerak Bulan

A. Rotasi
Bulan berputar pada porosnya dengan periode 27 1/3 hari.
B. Revolusi
Bulan berputar mengelilingi bumi dengan periode 27 1/3 hari. Akibat kala rotasi dan revolusi bulan waktunya bersamaan, maka daerah permukaan bulan yang menghadap ke bumi selalu tetap. Manusia mengetahui daerah yang membelakangi bumi setelah penerbangan pesawat Apollo yang berhasil memotret bagian belakang bulan.

C. Librasi

Gerak sumbu bulan yang melintang maupun membujur disebut gerak librasi bulan, disebut juga gerak angguk bulan. Terjadi akibat kemiringan sumbu bulan terhadap sumbu bidang orbitnya sebesar 6,5°. Kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika sebesar 5,2°. Akibatnya permukaan bulan yang menghadap ke bumi sedikit berubah akibat gerak angguk bulan tersebut.

3. Gerak Semu Matahari Akibat Gerak Bumi

A. Harian (Gerak Diurnal)

Terjadi akibat gerak rotasi bumi. Periode menengahnya 24 jam. Arah gerak dari timur ke barat. Kemiringan lintasan gerak harian matahari tergantung letak lintang geografis pengamat. Di equator berupa lingkaran tegak, di kutub mendatar, di belahan bumi selatan miring ke utara dan di belahan bumi utara miring ke selatan. Kemiringannya sesuai besar lintangnya.

B. Tahunan (Gerak Annual)

Arah gerak tahunan matahari ke arah timur sekitar satu derajat (1°) busur setiap harinya. Periode gerak semu tahunan matahari 365 ¼ hari. Arah terbit dan tenggelam matahari selalu berubah letaknya sepanjang tahun. Pada setiap tanggal 21 Maret dan 23 September terbit di titik timur dan tenggelam di titik barat. Pada setiap tanggal 22 Juni paling utara sejauh 23 ½° busur dari timur atau barat dan pada tanggal 22 Desember paling selatan sejauh 23 ½° busur.

C. Pengaruh Presesi Bumi

Letak matahari di zodiac bergerak mundur (ke arah barat) dengan periode 26.000 tahun akibat gerak presesi bumi. Setiap rasi bintang di zodiac ditempuh sekitar 2000 tahunan.

D. Kalender Matahari (Syamsyiah)

Penyusunan kalender matahari berdasarkan gerak revolusi bumi mengelilingi matahari. Dalam pemakaian praktis, consensus satu tahun adalah 365 hari. Kendati demikian, gerak edar bumi bukan lingkaran sempurna melainkan ellips, sehingga perhitungan kalender matahari sebenarnya tidak tetap, menyebabkan sesungguhnya rata-rata tahun matahari besarnya 365,25 hari, karena itu, didefinisikan tahun kabisat (tahun dengan jumlah hari sebanyak 366 hari), dengan penambahan satu hari pada bulan Februari, sehingga umurnya menjadi 29 hari, dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Jika angka tahun habis dibagi 4;
2. Jika tahun abad (missal 1900,2000, 2100), maka tahun tersebut habis dibagi 4 dan habis dibagi 400.

4. Gerak Bulan dari Bumi

A. Gerak Harian

Selain gerak akibat rotasi bumi dari arah timur ke barat, bulan melakukan pergerakan revolusi mengitari bumi yang arahnya dari barat ke timur. Akibat gerak ini, setiap hari bulan terlambat terbitnya disbanding letak bintang tertentu di belakangnya sekitar 50 menit waktu atau 13 derajat busur.

Sedangkan terhadap matahari, setiap hari bulan terlambat melakukan gerak harian sekitar 12 derajat busur. Berarti setiap jam, bulan ketinggalan oleh gerak harian matahari sebesar setengah derajat (½°) busur atau selebar piringan matahari maupun selebar piringan bulan.

B. Bulan Sideris dan Sinodis

Sebenarnya bulan sekali berevolusi mengedari bumi satu kali putar penuhnya (360°), memerlukan waktu 27 1/3 hari. Ditandai dengan letaknya kembali ke tempat semula di latar belakang bintang-bintang yang sama. Periode ini disebut satu bulan sideris. Sideris artinya bintang. Namun bentuk fasenya belum kembali ke bentuk yang sama barulah setelah 29 ½ hari, bulan kembali ke bentuk fase yang sama, dari bulan baru ke bulan baru berikutnya atau dari bulan pernama ke bulan purnama berikutnya. Periode ini disebut satu bulan sinodis (lunasi). Adanya perbedaan ini terjadi akibat bulan menyertai bumi mengitari matahari.


DAFTAR PUSTAKA

A.Ghazalie Masroeri Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, Perbedaan Hisab Hari Maulid Nabi 1431H, 11-02-2010, NU Online.com.

Cecep Nurwendaya, Kaidah-Kaidah Falakiyah, Planetarium & Observatorium, Jakarta, 2003.
KH Abdul Salam Nawawi, Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur.

H. Ahmad Izzuddin, M.Ag, Pengembangan Kurikulum Ilmu Falak di PTAI (Belajar Pada Prodi AS Konsentrasi Ilmu Falak IAIN Walisongo), www. Badilag.net.

LEBARAN TAHUN INI POTENSIAL BERBEDA LAGI, KEHATI-HATIAN HAKIM PA DALAM MENGITSBAT RUKYAT DAPAT MENYELAMATKAN PERSATUAN UMAT, www. Badilag.net. 4 Maret 2008.

www. Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (Daring), Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

www. Wikipedia.Com.

Di bawah ini tersedia contoh-contoh work spreadsheet excell untuk mencari awal bulan Hijriyah dengan dilengkapi posisi Bulan dan Matahari serta conversi dari tahun hijriyah ke Masehi :

1. Ephemeris2.1
Deksprifsi :
Perhitungan Awal Bulan Hijriyah dengan Halaman Mqd, Conversi, dan Awal_Bulandari K. Aceng M Ishaq.
Position didasarkan pada System New Comb dari K. Eli Gojali. DOWNLOAD
2. Ephemeris3

Deksripsi :
Perhitungan Awal Bulan Hijriyah dengan Halaman Mqd, Conversi, dan Awal_Bulan dari K. Aceng M Ishaq.
Position is Re-worked from a BASIC program by George Rosenberg (ALPO), with topocentric corrections from Meeus and other formulas from Duffett-Smith. DOWNLOAD

3. Ephemeris4

Deksripsi :
Perhitungan Awal Bulan Hijriyah dengan Halaman Mqd, Conversi, dan Awal_BulandariK. Aceng M Ishaq.
Position is Re-worked with Astronomical Functions For Excell from Keith Burnett. DOWNLOAD
4. New Comb 1.2

Deksripsi :

Altitude-Azimuth (altaz), position of sun & moon, prayer times, conversi, interpolasi, data, dan awal bulan (summary). DOWNLOAD

5. New Comb 2.1

Deksripsi :

Altitude-Azimuth (altaz), position of sun & moon, prayer times, conversi, interpolasi, data, dan awal bulan (summary). DOWNLOAD

Download Maghib, Kalender M & H, Daftar Ijtima' Ephemeris

Download Maghibul Qomaroen

Kriteria Penentuan Awal Bulan Kalender Hijriyah


Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah dalam agama Islam, seperti bulan Ramadhan (yakni umat Islam menjalankan puasa Ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha).

Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung. Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis / astronomis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Keduanya mengklaim memiliki dasar yang kuat.

Berikut adalah beberapa kriteria yang digunakan sebagai penentuan awal bulan pada Kalender Hijriyah, khususnya di Indonesia:

Rukyatul Hilal

Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:

Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)".[1]

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

Wujudul Hilal

Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima' qabl al-ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi mulai tahun 2000 PERSIS sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal lagi, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat. Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak. Tetapi Hisab Wujudul Hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum, dasar yang digunakan adalah perintah Al-Qur'an pada:

QS. Yunus: 5,


"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak.[2] Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.'"


QS. Al Isra': 12

"dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas."

QS. Al An-am: 96,

"Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui."


dan QS. Ar Rahman: 5,

"matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan."

serta penafsiran astronomis atas QS. Yasin: 39-40.


"dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua.[3]

tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya."

Contoh kasus:

Hisab NU awal bulan Rabi’ul awwal tahun 1431 H jatuh pada hari Selasa, 16 Februari 2010 dan 12 Robiul awwal 1431 H (Maulid Nabi Muhammad SAW) jatuh pada hari Sabtu, 27 Februari 2010 sebagaimana dimuat dalam almanak NU tahun 2010. NU tidak menetapkan awal bulan Robiul awwal pada hari Senin, 15 Februari 2010 karena pada hari ahad (malam senin) ketika matahari terbenam hilal baru 0047’18”, berarti belum memenuhi kriteria imkanurrukyah.[4]

Berbeda dengan almanak-almanak lain yang menggunakan kriteria wujudul hilal sehingga awal bulan Robiul awwal 1431 H jatuh pada hari senin, 15 Februari 2010 dan tanggal 12 Robiul awal 1431 H jatuh pada hari Jum’at, 26 Februari 2010.

Imkanur Rukyat MABIMS

Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:

Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:

  • Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
  • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.[5]

Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Prinsip Imkanur-Rukyat digunakan antara lain oleh PERSIS.

Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.

Rukyat Global[6]

Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.

Perbedaan Kriteria

Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.

Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Ahad (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. Penetapan awal Syawal juga pernah mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993 (1413 H), 1994 (1414 H) dan 2008 (1429 H), dimana ada yang menetapkan 1 Syawal pada hari Selasa, 30 September 2008, sedangkan Pemerintah RI menetapkan esoknya, Rabu 1 Oktober 2008. Namun demikian, Pemerintah Indonesia mengkampanyekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.


1.
DOWNLOAD MAGHIBUL QOMAROEN
karya KYAI ACENG M ISHAQ, CIANJUR
Deksripsi :

Muqoddimah (Mqd.), Hisab Awal Bulan, Calendar, Kesimpulan, Gerhana Bulan, Gerhana Matahari, Lintang & Bujur.

2. Kalender M & H
Kalender Tahun Masaehi & Hijriyah : Perbandingan M-H, H-M, Pertahunan M, Pertahunan H. DOWNLOAD

3. Daftar Ijtima' Ephemeris
IJTIMA', Lintang & Bujur.
DOWNLOAD

4. Program, Hisab Maghib

Deksripsi :

Muqoddimah (Mqd.), Hisab Awal Bulan, Calendar, Kesimpulan, Gerhana Bulan, Gerhana Matahari, Lintang & Bujur. DOWNLOAD


[1] Hadits nomor 4 dan 5 pada halaman 7 di atas

[2] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.

[3] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

[4] A. Ghazalie Masroeri Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, Perbedaan Hisab Hari Maulid Nabi 1431H, 11-02-2010, NU Online.com.

[5] Kalau ingin dilakukan secara konsisten, maka hari Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada hari Sabtu, 27 Februari 2010 bukan hari Jum’at, 26 Februari 2010 sebagai hari libur nasional.

[6] Prinsip global ini biasanya berkiblat kepada Arab Saudi, apabila mereka menyatakan satu Ramadhan, idul fitri dan Idul Adha, maka ormas Lembaga Dakwah Islam (LDI), ormas ini mengikutinya, meskipun berbeda dengan yang ditetapkan oleh Pemerintah RI.

Download Jadwal Wib, Almanak Nautica, Ephemeris, New Comb.

Kaidah-Kaidah Falakiyah

Dalam Kamus Bahasa Indonesia ka•i•dah berarti rumusan asas yang menjadi hukum; aturan yang sudah pasti; patokan; dalil (dalam matematika) . Sedangkan falakiyah berasal dari akar kata falak yang berarti : 1 lengkung langit; lingkaran langit; cakrawala; 2 pengetahuan mengenai keadaan (peredaran, perhitungan, dsb) bintang-bintang; ilmu perbintangan; astronomi.
Yang dimaksud dengan kaidah-kaidah falakiyah adalah asas-asas dan rumusan yang valid mengenai fenomena cakrawala langit berikut isi yang ada di dalamnya seperti matahari, bulan, bintang-bintang dan benda-benda langit lain seperti meteor dan sebagainya.
Untuk mengetahui dan memahami kaidah-kaidah falakiyah secara tersusun dan terarah diperlukan ilmu yang mempelajarinya. Ilmu tersebut biasa disebut dengan ilmu falak atau ilmu hisab rukyat atau ilmu astronomi.

HISAB DAN RUKYAT

Hisab berasal dari bahasa Arab "hasiba", yang secara harfiah berarti menghitung, mengira dan membilang. Jadi hisab adalah, hitungan, kiraan dan bilangan. Dengan kata lain Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender hijriyah. Dalam al-Quran kata ini sering digunakan dalam konteks perhitungan perbuatan manusia.
Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu shalat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."


"matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan."

Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Tuhan memang sengaja menjadikan matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Al-Rahman (55) ayat 5 di atas, disebutkan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.
Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda langit (khususnya matahari dan bulan) maka sejak awal peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadap astronomi. Astronom muslim ternama yang telah mengembangkan metode hisab modern di antaranya adalah Al-Biruni (973-1048 M), Ibnu Tariq, Muhammad bin Musa al-khawarizmi (780-850) ,




Al-Batani , dan Habash.
Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab seringkali digunakan sebelum rukyat dilakukan. Salah satu hasil hisab adalah penentuan kapan ijtimak terjadi, yaitu saat matahari, bulan, dan bumi berada dalam posisi sebidang atau disebut pula konjungsi geosentris. Konjungsi geosentris terjadi pada saat matahari dan bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari bumi. Ijtimak terjadi 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodik.
Dalam ilmu falak (astronomi) kata hisab berarti ilmu hitung posisi benda-benda langit, khususnya posisi matahari dan bulan dilihat dari bumi. Ilmu ini menjadi penting bagi Umat Islam karena berkaitan dengan pelaksanaan beberapa ibadah, misalnya penentuan waktu shalat, awal bulan Hijriyyah, Idul fithri, Idul Adha. Termasuk menentukan arah kiblat dengan tepat. Ilmu Falak yang mempelajari kaidah-kaidah Ilmu Syariah tersebut dinamakan Falak Syar'i (Ilmu Falak + Ilmu Syariah = Falak Syar'i). Di Indonesia nama yang populer adalah Falak saja.
Rukyat adalah penyebutan secara singkat dari rukyatul hilal. Kata ini berasal dari bahasa Arab "ra'a - yara - rukyat" yang artinya "melihat".


Salah satu contoh hasil pengamatan kedudukan hilal
Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.
Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru tanggal 1 Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.
Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan "cahaya langit" sekitarnya.


Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 8 derajat. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging. namun tentunya perlu dilihat lagi bagaimana penerapan kedua ilmu tersebut
Dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.
Hilal juga berasal dari bahasa Arab "al-hilal - ahillah" yaitu bulan sabit (crescent) yang pertama terlihat setelah terjadinya "ijtimak".
Ijtimak adalah bulan baru (new moon) disebut juga bulan mati. Ijtimak terjadi saat posisi bulan dan matahari berada pada jarak paling dekat. Secara astronomis, saat ijtimak terjadi maka bujur ekliptik bulan sama dengan bujur ekliptik matahari dengan arah penglihatan dari pusat bumi (geosentris).
Pada saat sekitar ijtimak, Bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari Bumi tidak mendapatkan sinar matahari, sehingga dikenal istilah Bulan Baru. Pada petang pertama kali setelah ijtimak, Bulan terbenam sesaat sesudah terbenamnya matahari
Kadang-kadang peristiwa ijtimak juga ditandai dengan terjadinya gerhana matahari yaitu saat lintang ekliptik bulan berimpit atau mendekati lintang ekliptik matahari. Periode dari peristiwa ijtimak ke ijtimak berikutnya disebut "bulan sinodis" yang lamanya 29,531 hari alias 29 hari 12 jam, 44 menit 2,8 detik.
Sehingga dalam konteks ilmu falak, rukyat (rukyatul hilal) adalah aktivitas mengamati keterlihatan (visibilitas) hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah.
Dalam Islam, terlihatnya hilal di sebuah negeri dijadikan pertanda pergantian bulan kalender hijriyah di negeri tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT Q.S. al-Baqarah 189:

"mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

Hilal juga dijadikan pertanda mulainya ibadah puasa Ramadhan yang sudah dipakai sejak jaman nabi waktu itu, sebagaimana hadits yang menyatakan:

-4(1080) حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة. حدثنا أبو أسامة. حدثنا عبيدالله عن نافع، عن ابن عمر رضي الله عنه ؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر رمضان. فضرب بيديه فقال:
"الشهر هكذا وهكذا وهكذا (ثم عقد إبهامه في الثالثة) فصوموا لرؤيته. وأفطروا لرؤيته. فإن أغمي عليكم فاقدروا له ثلاثين".
5 - (1080) وحدثنا ابن نمير. حدثنا أبي. حدثنا عبيدالله، بهذا الإسناد. وقال: "فإن غم عليكم فاقدروا ثلاثين" نحو حديث أبي أسامة.

"Berpuasalah engkau karena melihat hilal dan berbukalah engkau karena melihat hilal. Bila hilal tetutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari" (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika merujuk pada Hadis Nabi tentang puasa, hilal dapat diterjemahkan sebagai sabit bulan yang pertama kali terlihat dengan mata setelah ijtimak terjadi. Secara astronomi, ijtimak atau konjungsi terjadi jika Matahari dan Bulan berada pada bujur ekliptika yang sama.

Di Sini Tersedia Perhitungan Jadwal Wib, Almanak Nautica, Ephemeris dan New Comb dalam Work Spreadsheet Excell karya Kyai Aceng Muhammad Ishaq, Cianjur.

1. Jadwal Wib
Wib 2, WIB, Jad 1, Jad2, Dat Imsq, Imsakiyah, DEC, Tafawut, WIS, L&B. DOWNLOAD

2. Almanak Nautika
DOWNLOAD

3. Ephemeris 2
Mqd, Ephemeris. DOWNLOAD
4. New Comb2
New Com, Program, S Program, Lembaran Kerja, Lintang & Bujur. DOWNLOAD

5.
Wib 2
Wib 2, WIB, Jad 1, Jad2, Dat Imsq, Imsakiyah, DEC, Tafawut, WIS, L&B. DOWNLOAD


6.
Wib 2a
Wib 2, WIB, Jad 1, Jad2, Dat Imsq, Imsakiyah, DEC, Tafawut, WIS, L&B.
DOWNLOAD

7. LK Jad
Format Jadwal Waktu Sholat Almusri'. DOWNLOAD

8.
New Comb2a
New Com, Program, S Program, Lembaran Kerja, Lintang & Bujur. DOWNLOAD

9. Jadwal Waktu Sholat
WIB 2, Tafawut, WIS 1a, Setahun (sepanjang masa), Sebulan, Jadwal Waktu Sholat (JWS) ; sebuah format penjadwalan asli Almusri'. DOWNLOAD


10. Hamsilia1.1

NurulAnwar7.1  merupakan koreksi dari Muhammad Wasill dalam risalahnya "Ulasan Kitab Nurul Anwar, Khulashotul Wafiyah dan Badi'atul Mitsal". Program NurulAnwar7.1 ini selanjutnya dinamakan "Hamsilia1.1"
DOWNLOAD