Anda setuju dengan Blog ini ? Kalau ya, silahkan Klik !

Jumat, 04 November 2011

HISAB-RUKYAT : BEDAH HARI RAYA IDUL FITRI DI TAHUN 1432 H/2011 M (part 2)


Semua Bermuara Pada Sidang Itsbat

Malam itu Mentri Agama Suryadharma Ali memimpin siding itsbat di Kantor Kemenag. Tidak seperti biasanya siding tahunan itu disiarkan televise secara langsung. Orang pun dapat melihat dengan jelas seberapa hebat kualitas ahli falak Ormas-Ormas Islam. Yang jelas, keputusan NU sesuai dengan penelitian ilmiah dari LAPAN.

Ada beberapa kejadian unik pada siding itsbat hari raya Idul Fitri yang lalu. Di antaranya tentang kengototan utusan dari Muhammadiyah yang mendukung kesaksian di daerah Cakung dan Jepara. Padahal telah diketahui secara umum bahwa Muhammadiyah menetapkan hari raya setahun sebelumnya dengan menggunakan hisab (Wujudul Hilal ; Methode Hisab yang telah usang, mengambil istilah Prof. Dr Thomas Djamaluddin). "Sejak kapan Muhammadiyah mendukung rukyat?" celutuk salah seorang pemirsa televise. "Itu hanya konpirasi dan upaya mencari teman saja," kata KH A Ghazalie Masroeri yang kala itu turut mengikuti sidang.

Kepada Aula, Kiai Ghazalie menceritakan sidang yang berlangsung cukup demokratis tersebut. "Mayoritas sepakat bahwa Idul Fitri jatuh pada tanggal 31 Agustus," kata bapak spesialis ilmu falak ini.

Sesi kedua adalah mendengarkan paparan Ketua Badan Hisab Rukyatul Hilal Kementrian Agama, Ahmad Jauhari, yang melaporkan hasil pemantauan di 96 lokasi, 30 lokasi melaporkan tidak melihat hilal (bulan Baru). Ia memaparkan, ijtima' (pertemuan akhir bulan dan awal bulan baru) menjelang Syawal jatuh pada Senin, 29 Agustus atau 29 Ramadlan sehingga saat matahari terbenam posisi hilal berada diatas ufuk dengan ketinggian 0 derajat 8 menit sampai 1 derajat 53 menit. Dengan demikian bulan Ramadlan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal) dan satu Syawal jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011.
Ahmad Jauhari di Sidang Itsbat

Terhadap hal ini, NU menyambut baik. Bahkan PBNU telah menyeber 110 orang ulama' dan ahli astronomi untuk dapat melihat hilal dengan seksama. Mereka tersebar di sekitar 90 titik yang secara geografis memungkinkan untuk melihat hilal dengan lebih sempurna, tanpa halangan bangunan maupun ketinggian yang memadai.

Ketua MUI Pusat, KH. Ma'ruf Amin, mendasarkan pendapatnya pada pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami yang menandaskan bahwa bila ahli hisab secara mayoritas dan mutawatir menyatakan hilal tidak tampak, dan pada saat yan bersamaan ada yang mengaku melihat hilal, maka kesaksiannya ditolak. Hal ini menanggapi laporan dari Tim Rukyat di daerah Cakung dan Jepara yang mengaku telah melihat hilal.
KH. Ma'ruf Amin

Terhadap kesaksian dari Cakung ini Kiai Ghazalie memberikan beberapa catatan. "Saya telah meniliti Cakung hampir sepuluh tahun, dan tempat ini tidak layak dijadikan untuk rukyatul hilal lantaran posisinya berada 20 meter di bawah permukaan laut," katanya saat dihubungi Aula. Yang juga tidak kalah memprihatinkan, lokasi rukyah yang ternyata berada di lantai tiga Ponpes Al-Husainiah, Cakung, Jakaarta Timur. "Padahal di sekelilingnya sudah ada beberapa bangunan yang lebih tinggi, sehingga dapat dipastikan pandangannya tidak leluasa." Sambungnya.

Di samping itu, alat yang digunakan untuk rukyat sudah tidak representative lagi, yakni berupa anak panah. Perukyatnya sendiri orang itu-itu saja tak pernah ada pergantian. "dan yang membuat kami sangsi adalah terdapat inkonsistensi antara pengakuan para perukyat, " sergahnya. "Saksi pertama mengaku melihat hilal pukul 17.40 WIB, sedangkan saksi kedua mengaku telah melihat hilal pada jam 17.59 WIB," lanjutnya.
Sedangkan yang menyumpah para saksi bukan berprofesi hakim, karena hakim yang ada tidak berkenan menerima sumpah dua saksi tersebut. "Secara fiqih siyasah kan tidak bisa menentukan hakim dari Ormas?"

Hal serupa juga terjadi di Jepara. Dari Tim PBNU yang diturunkan ke daerah tersebut, mengatakan bahwa tidak melihat hilal. Semua sudah dikumpulkan oleh hakim dan menyatakan bahwa bulan tidak ada lantaran tertutup awan. Secara tiba-tiba, ada dosen STAIN Jepara yang bernama Saiful Mujab, MSi menyatakan kalau dirinya melihat hilal selama sepuluh detik tapi terputus-putus. "Ini kan pengakuan yang aneh dan tidak mungkin," ujar Kiai Ghazalie. Dan yang lebih celaka adalah ada hakim yang ternyata bersedia menerima kesaksiannya.

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin, ketika diberi kesempatan member komentar cukup pedas, khususnya kepada Muhammadiyah, dengan tegas dia menandaskan bahwa metode hisab yang dilakukan organisasi yang mengaku paling modern ini telanh usang. Sedangkan dalil ayat di Surat Yasin yang dijadikan sebagai pegangan dalam melihat wujudul hilal ternyata salah. "Ayat itu tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi ini, " katanya.
Ada perkembangan menarik dari Ormas ini (PERSIS, pen) yang biasanya sependapat dengan Muhammdiyah, malah sekarang mulai berpisah. "Praktis, hanya Muhammadiyah saja yang kukuh dengan pendapat dan pendiriannya untuk ber hari raya selasa (29/8)," kata Kiai Ghazalie prihatin. "Padahal, mayoritas Ormas dan didukung pemerintah lebih memilih hari raya Rabu, tentunya dengan pendekatan yang lebih baik, professional dan dapat dipertanggungjawabkan," kata Kiai Ghazalie.
Prof Dr Thomas Djamaluddin
اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام والسكينة والعافية والرزق الحسن والتوفيق لما تحب وترضى ، ربُّنا وربك الله

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar