Anda setuju dengan Blog ini ? Kalau ya, silahkan Klik !

Senin, 07 Januari 2013

Pegangan Ilmu Falak (part 2)



بسم الله الرحمن الرحيم

PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH
Ada beberapa kriteria penentuan awal bulan hijriyah, yaitu rukyatul hilal, wujudul hilal, rukyat globaldan imkanur rukyah.Keempat kriteria itu kadang menghasilkan ketetapan awal bulan yang berbeda, meskipun sama-sama menetapkan ada bulan (hilal) saat matahari terbenam. Bahkan, kriteria yang sama belum tentu menghasilkan ketetapan yang sama, misal karena perbedaan tempat acuan (tempat melihat bulan).

Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung.Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU).
Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan bulan terbenam setelah matahari terbenam (moonset after sunset) maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) bulan saat matahari terbenam. Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah.


Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) hijriyah yang menganut prinsip bahwa jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.

Imkanur Rukyah adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) hijriyah dengan kriteria-kriteria tertentu yang berkaitan dengan bisa tidaknya bulan dilihat oleh teropong atau mata. Prinsip Imkanur-Rukyat digunakan antara lain olehPersis.

IMKANUR RUKYAH

1). Pengertian Imkanur Rukyah
Secara harfiah, hisab Imkanur Rukyah berarti “perhitungan kemungkinan hilal terlihat”.Dalam bahasa Inggris biasa diistilahkan dengan visibilitas hilal.Pada hisab Imkanur Rukyah, selain memperhitungkan wujudnya hilal di atas ufuk, pelaku hisab juga memperhitungkan faktor-faktor lain yang memungkinkan terlihatnya hilal.Yang menentukan terlihatnya hilal bukan hanya keberadaannya di atas ufuk, melainkan juga ketinggiannya di atas ufuk dan posisinya yang cukup jauh dari arah matahari.Faktor ini mememungkinkan praktek pelaksanaan rukyah (actual sighting) diperhitungkan dan diantisipasi.Rukyah (observasi) yang dilakukan merupakan rukyah jangka panjang dan diteliti dengan seksama kemudian disimpulkan kriterianya.

Di dalam hisab Imkanur Rukyah, selain kondisi dan posisi hilal, diperhitungkan pula kuat cahayanya (brightness) dan batas kemampuan mata manusia.Di dalam menyusun hipotesisnya, dipertimbangkan pula data statistik keberhasilan dan kegagalan rukyah, perhitungan teoritis dan kesepakatan paling mendekati persyaratan yang dituntut fikih dalam penentuan waktu ibadah.
Awal bulan qamariah menurut Imkanur Rukyah dimulai pada saat terbenam matahari setelah terjadinya ijtimak dan pada saat itu hilal sudah diperhitungkan untuk dapat dirukyat atau dihitung sesuai dengan penampakan hilal sebenarnya (actual sighting).Penentuan kriteria visibilitas hilal untuk dapat dirukyat menjadi acuannya.Para ahli yang termasuk golongan ini berbeda pendapat tentang berapa ukuran (dalam mengukur) ketinggian hilal (irtifa’ hilāl) yang mungkin dapat dilakukan rukyat bi al-fi’li. Ada yang mengatakan 8°, 7°, 6°, 5° dan lain sebagainya. Selain ukuran ketinggian hilal sebagai syarat untuk dapat dirukyat, ada pula yang menentukan unsur lainnya yaitu sudut pandang (angular distance) antara hilal dan matahari.

Visibilitas hilal merupakan sebagian permasalahan yang mendapat perhatian serius dari astronom Muslim abad pertengahan.Hal ini disebabkan kalender yang digunakan sehari-hari didasarkan pada Bulan dan awal bulan ditandai dengan penampakan hilal.

2.) Asal-Usul dan Perkembangan Imkanur Rukyah

Berdasarkan lembaran sejarah pemikiran hisab rukyah, ternyata embrio Imkanur Rukyah sudah lama diperbincangkan di kalangan ulama fiqh, di antara yang memeloporinya adalah al-Qulyubi, Ibn Qasim al-Ubbadi, al-Syarwani dan al-Subkhi. Hanya saja kriteria Imkanur Rukyah-nya belum ada kesepakatan.Sedangkan dalam kitab-kitab ilmu falak klasik sudah banyak yang dibahas. Berikut ini kriteria yang disampaikan pengarang kitab-kitab falak klasik yang dinukil berdasarkan kesepakatan ahli astronomi mutaqaddimin saat itu :

Nama Kitab
Pengarang
Imkanur Rukyah
Tinggi hilal
Umur bulan
Sullam al-Nayyirain
Muhammad Manshur Al-Batawi
80 atau minimal 60
17 jam 20 menit atau minimal 12 jam
Fath al-Rauf al-Mannan
Abdul Jalil bin Abdul Hamid
60 atau minimal 30
2/5 jari atau min 1/5 jari
Al-Khulashah al- Wafiyyah
Zubaer Muhammad al-Jaelany
90 atau 60 atau minimal 20
2/5 jari atau min 1/5 jari

Ketidaksepakatan ahli hisab dan ahli rukyah dalampenentuan awal bulan qomariyah terjadi karena dasar hukum yang dijdikan alasan oleh ahli hisab tidak bisa diterima oleh ahli rukyah dan dasar hukum yang dikemukakan oleh ahli rukyah dipandang oleh ahli hisab bukan merupakan satu-satunya dasar hukum yang membolehkan cara dalam menentukan awal bulan qomariyah.

Jika pertentangan tersebut tetap dilestarikan maka masing-masing pihak tetap mempertahankan pendapatnya masing-masing seolah-olah tidak akan ada habisnya..Oleh karena itulah pemerintah menetapkan metode Imkanur Rukyah sebagai dasar dalam penentuan awal bulan qomariyah untuk mencoba menyatukan penentuan awal bulan qamariyah antara ahli hisab dan ahli rukyah.

Karena melihat pentingya kriteriaImkanur Rukyah, Pemerintah dalam hal ini Departemen Agama merasa perlu memberikan solusi alternatif dengan menawarkan kriteria yang dapat diterima semua pihak diantaranya dengan mengadakan Musyawarah Kerja Hisab Rukyah tahun 1997/1998 di Ciawi Bogor, kemudian ditindak lanjuti dengan musyawarah pada bulan Maret 1998 yang juga diikuti oleh ahli astronomi yang menghasilkan keputusan yang intinya: “penentuan awal bulan qamariyah didasarkan pada Imkanur Rukyah dengan kriteria tinggi hilal 2 derajat, umur bulan 8 jam dari saat ijtima’ saat matahari terbenam dengan perhitungan system hisab haqiqi tahqiqi.

Upaya pemerintah ini pada dasarnya berpijak pada upaya tercapainya keseragaman, kemaslahatan, dan persatuan umat Islam Indonesia. Hal ini sebagaimana kaidah ushul fiqh :

Keputusan pemerintah itu mengikat untuk dilaksanakan dan menghilangkan perbedaan pendapat”.

Ketidakpastian yang terjadi dalam negara Indonesia ini juga memunculkan produk keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 tahun 2004 tentang Penetapan awal Ramadhan, syawal, dan Zulhijjah tertanggal 05 Dzulhijjah 1424 H (24 Januari 2004), yang berbunyi:
1.      Penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyah dan hisab oleh pemerintah RI, cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional
2.      Seluruh umat Islam di Indonesia wajib mentaati ketetapan pemerintah RI tentang Penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah
3.      Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam dan Instansi terkait
4.      Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal di rukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama

Potensi Perbedaan Awal Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah Jika tetap belum disetujui kriteria yang sama dari ormas-ormas Islam di Indonesia :




TAHUN
DERAJAT TINGGI HILAL
Ramadhan
Syawal
Dzulhijjah
1430 H / 2009
-1
6
6
1431 H / 2010
3
-2
1,7
(rawan perbedaan)
1432 H / 2011
7,5
2,0
(rawan perbedaan)
7,1
1433 H / 2012
2 (rawan perbedaan)
-4,3
-2,4
1434 H / 2013
0,7
(rawan perbedaan)
4,2
3,6
1435 H / 2014
0,8
(rawan perbedaan)
4,1
0,8
(rawan perbedaan)



3). Kriteria-Kriteria Imkanur Rukyah

1.        MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura)
A.     Tinggi hilal minimum 2o
B.     Jarak dari matahari minimum 3o
C.     Umur bulan saat maghrib > 8 jam
Problemnya: Kriteria ini didasarkan pada analisis ilmiah sederhana (data 16 September 1974, dari 3 lokasi, jumlah saksi 10 orang, tanpa gangguan Venus, tingginya 2,19o, dan umur hilal 8,08 jam) yang belum memperhitungkan beda azimut bulan – matahari

2.      Kriteria IICP (International Islamic Calendar Programme)
A.     Kriteria posisi bulan dan matahari: ketinggian minimal hilal dapat teramati adalah 4 derajat bila beda azimut bulan – matahari lebih dari 45 derajat, bila beda azimutnya 0 derajat perlu ketinggian minimal 10,5 derajat.
B.     Kriteria beda waktu terbenam: minimal bulan 40 menit lebih lambat terbenam daripada matahari dan memerlukan beda waktu lebih besar untuk daerah di lintang tinggi, terutama pada musim dingin.
C.     Kriteria umur bulan (dihitung sejak ijtima’): hilal harus berumur lebih dari 16 jam bagi pengamat di daerah tropik dan berumur lebih dari 20 jam bagi pengamat di lintang tinggi.

3.        Kriteria LAPAN
A.     Umur hilal minimum 8 jam
B.     Jarak bulan dari matahari minimum 5,6o
C.     Tinggi bulan minimum tergantung beda azimut bulan – matahari.
Beda Azimut
Tinggi minimum (o)
0,0
0,5
1,0
1,5
2,0
2,5
3,0
3,5
4,0
4,5
5,0
5,5
6,0
8,3
7,4
6,6
5,8
5,2
4,6
4,0
3,6
3,2
2,9
2,6
2,4
2,3

4.      Limit Danjon.
Hilal akan tampak apabila jarak sudut bulan dan matahari lebih besar dar 70. Danjon, mengadakan penelitian terhadap hasil pengamatan bulan sabit muda  yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

5.      Konferensi Penyatuan Awal Bulan Hijriah International di Istambul pada tahun 1978, seperti yang dikutip oleh Dizer (1983)  menetapkan  kriteria sebagai berikut :
A.     Awal bulan dimulai jika jarak  busur  antara bulan dan matahari lebih besar dari 8 derajat dan
B.     Tinggi bulan dari ufuk pada  saat  matahari  tenggelam  lebih besar dari 5 derajat.

Bila mengacu pada kriteria minimum imkanur rukyah (2 derajat) maka tanggal 1 Ramadhan 1433 H. jatuh pada hari Sabtu , 21 Juli 2012 M.



PERHITUNGAN GERHANA BULAN DAN MATAHARI
(SISTEM EPHEMERIS HISAB RUKYAT)

Gerhana matahari akan terjadi pada saat ijtima’ dimana matahari dan bulan berada pada titik simpul atau di dekatnya. Sedangkan gerhana bulan akan terjadi saat istiqbal di mana bulan berda pada titik simpul atau di dekatnya dan matahari berada pada 180o dari posisi bulan.

Bidang Lintasan bumi dan bidang ekliptika membentuk sudut 0o karena kedua bidang ini berimpit.Sedang bidang lintasan bulan membentuk sudut 5o 8’ dengan bidang ekliptika. Oleh karena itu tidak di setiap ijtima’ akan terjadi gerhana matahari dan tidak setiap istiqbal akan terjadi gerhana bulan.

Gerhana Matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu menutupi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.
Gerhana matahari ada tiga macam, yaitu gerhana matahari cincin, total dan sebagian.
1: Matahari                              4: Gerhana Matahari Total
2: Bumi                                    5: Gerhana Matahari Sebagian
3: Bulan                                   6: Gerhana Matahari Cincin


GerhanaMatahari total terjadi saatjarak bulan dekat dengan bumi pada saat puncak gerhana, sehingga kerucut bayangan umbra bulan menyentuh permukaan bumi. Pada saat itu piringan Matahari tertutup sepenuhnya oleh piringan Bulan.Hal ini dikarenakan, piringan Bulan sama besar atau lebih besar dari piringan Matahari. Ukuran piringan Matahari dan piringanBulan sendiri berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak Bumi-Bulan dan Bumi-Matahari.


Gerhana sebagian terjadi apabila jarak bulan dekat dengan bumi saat puncak gerhana, sehingga kerucut bayangan umbra bulan menyentuh permukaan bumi. Tetapi matahari dan bulan tidak segaris sehingga piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Pada gerhana ini, selalu ada bagian dari piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan.


Gerhana cincin terjadi apabila jarak bulan jauh dengan bumi saat puncak gerhana, sehingga kerucut bayangan umbra bulan tidak menyentuh permukaan bumi. piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Gerhana jenis ini terjadi bila ukuran piringan Bulan lebih kecil dari piringan Matahari. Sehingga ketika piringan Bulan berada di depan piringan Matahari, tidak seluruh piringan Matahari akan tertutup oleh piringan Bulan. Bagian piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan, berada di sekeliling piringan Bulan dan terlihat seperti cincin yang bercahaya.

Pada dasarnya perhitungan gerhana Matahari adalah menghitung kapan terjadinya kontak gerhana.Momen terjadinya gerhana matahari berdasarkan urutan terjadinya kontak adalah:

Kontak I adalah saat piringan bulan dan piringan matahari mulai bersinggungan.Kontak I ini menandai dimulainya peristiwa gerhana.

Kontak II adalah saat pertama seluruh piringan matahari tertutup oleh piringan bulan (untuk peristiwa gerhana matahari total), atau saat seluruh piringan bulan seluruhnya berada 'di dalam' piringan matahari (untuk peristiwa gerhana matahari cincin). Kontak II ini menandai dimulainya fase total (untuk gerhana matahari total), atau fase cincin (untuk gerhana matahari cincin)

Puncak gerhana adalah saat jarak antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari mencapai minimum.

Kontak III adalah kebalikan Kontak II.Kontak III ini adalah saat piringan matahari mulai keluar dari belakang piringan bulan (untuk peristiwa gerhana matahari total), atau saat piringan bulan mulai meninggalkan piringan matahari (untuk peristiwa gerhana matahari cincin).Interval antara Kontak II dan kontak III adalah panjangnya fase gerhana matahari total. Pada gerhana matahari sebagian, fase Kontak II dan Kontak III ini tidak kita amati.

Kontak IV adalah saat piringan matahari dan piringan bulan bersinggungan ketika piringan bulan meninggalkan piringan matahari.Kontak IV ini adalah kebalikan dari Kontak I, dan menandai berakhirnya peristiwa gerhana secara keseluruhan.Interval antara Kontak I dan Kontak IV adalah panjangnya peristiwa gerhana matahari.

Berdasarkan waktu-waktu kontak ini, peristiwa gerhana matahari melalui fase-fase :
·         fase gerhana sebagian: selang antara kontak I dan kontak II, dan antara kontak III dan kontak IV
·         fase gerhana total atau fase gerhana cincin (tergantung gerhana matahari total atau cincin): selang antara kontak II dan kontak III
Gerhana bulan terjadi karena sinar matahari yang menuju bulan terhalang bumi. Karena sinar matahari mengarah ke bumi, di belakang bumi terbentuklah bayangan, yaitu bayangan gelap total (umbra) dan bayangan redup (penumbra). Sebenarnya, pada peristiwa gerhana bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat.Ini dikarenakan masih adanya sinar Matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi.Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrumcahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga, jingga, ataupun coklat.




Ada empat macam gerhana bulan, yaitu gerhana total, gerhana sebagian dan gerhana penumbra total dan gerhana penumbra sebagian.

-          Gerhana total
Pada gerhana ini, bulan akan tepat berada pada daerah umbra.
-          Gerhana sebagian
Pada gerhana ini, sebagian permukaan bulan akan tepat berada pada daerah umbra. Tetapi sebagian permukaan bulan yang lain berada di daerah penumbra. Sehingga masih ada sebagian sinar Matahari yang sampai ke permukaan bulan.

-          Gerhana penumbra total
Pada gerhana ini, seluruh bagian bulan berada di bagian penumbra.Sehingga bulan masih dapat terlihat dengan warna yang suram.

-          Gerhana penumbra sebagian
Pada gerhana ini, sebagian bulan berada di bagian penumbra dan sebagian permukaan bulan yang lain berada di luar daerah penumbra, sehingga sebagian bulan bersinar terang.

Pada dasarnya perhitungan gerhana bulan adalah menghitung kapan terjadinya kontak gerhana.Momen terjadinya gerhana Bulan diurut berdasarkan urutan terjadinya adalahP1, P2, U1, U2, Puncak gerhana, U3, U4, P3, dam P4.

P1 : P1 adalah kontak I penumbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan luar dengan penumbra Bumi. P1 menandai dimulainya gerhana bulan secara keseluruhan.

P2 :P2 adalah kontak II penumbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan dalam dengan penumbra Bumi. Saat P2 terjadi, seluruh piringan Bulan berada di dalam piringan penumbra Bumi.

U1 :U1 adalah kontak I umbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan luar dengan umbra Bumi.

U2 :U2 adalah kontak II umbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan dalam dengan umbra Bumi. U2 ini menandai dimulainya fase total dari gerhana bulan.
Puncak Gerhana : Puncak gerhana adalah saat jarak pusat piringan Bulan dengan pusat umbra / penumbra mencapai minimum.

U3 : U3 adalah kontak III umbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan umbra Bumi, ketika piringan Bulan tepat mulai akan meninggalkan umbra Bumi. U3 ini menandai berakhirnya fase total dari gerhana bulan.

U4 : U4 adalah kontak IV umbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan umbra Bumi.
P3 : P3 adalah kontak III penumbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan penumbra Bumi. P3 adalah kebalikan dari P2.

P4 : P4 adalah kontak IV penumbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan penumbra Bumi. P4 adalah kebalikan dari P1, dan menandai berakhirnya peristiwa gerhana bulan secara keseluruhan.

Berdasarkan waktu-waktu kontak ini, peristiwa gerhana bulan melalui fase-fase:
·         fase gerhana penumbral: selang antara P1-U1, dan antara U4-P4
·         fase gerhana umbral: selang antara U1-U4
·         fase total: selang antara U2-U3


PERHITUNGAN GERHANA

Perhitungan gerhana bulan dan gerhana matahari dengan sistem Ephemeris Hisab Rukyat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut:

A.   Gerhana Bulan (contoh perhitungan GBT bulan Jumadil Akhir 1435 H)

1.      Kemungkinan terjadinya gerhana bulan pada bulan Jumadil Akhir 1435 H (dihitung berdasarkan tabel kemungkinan terjadinya gerhana). Terlampir
Tahun 1430    = 326° 14' 12”
Tahun 5    = 40° 14' 0”
Jumadil Akhir    = 168° 41' 22”
Jumlah          = 535° 9' 34”
                             360° 00’ 00” –  
                      =  175° 9' 34”

Gerhana bulan mungkin akan terjadi apabila hasil penjumlahan tersebut:
·                     antara 000° s/d 014°
·                     antara 165° s/d 194°
·                     antara 354° s/d 360°
Hasil atau angka 175° 9' 34”  ini berada di antara 165° s/d 194°, sehingga pada
pertengahan bulan Jumadil Akhir 1435 H.  ada kemungkinan terjadi gerhana bulan. 



2.      Konversi tanggal kemungkinan terjadinya gerhana ke kalender masehi
Tanggal 15 Jumadil Akhir 1435 H. atau 15 - 06 - 1435 H.
Waktu yang telah dilalui selama 1434 tahun + 5 bulan + 15 hari
1434 ÷ 30 = 47 daur (siklus) + 24 tahun + 5 bulan + 15 hari
47 siklus = 47 x 10631 =                   499657 hari
24 tahun = 24 x 354 + 8[1] =            8504 hari
5 bulan = 30 x 3 + 29 x 2 =              148 hari
15 hari =                                       15 hari +
Jumlah hari ( Tanggal 15 Jumadil Akhir 1435 H. atau 15 - 06 - 1435 H.) ) =  508324 hari
Selisih Kalender Masehi-Hijriyah =  227.016 hari
Anggaran baru Gregorius (10 + 3)     =           13 hari +
           Jumlah                                        =     735353 hari
508324 ÷ 7   = 72617,   lebih 5 hari  = Senin (dihitung mulai Jum’at)
508324 ÷ 5 = 101664,  lebih 4 hari  = Pon (dihitung mulai Legi)
735353 ÷ 1461    = 503 daur/siklus + 470 hari
503 siklus =503 x 4 =  2012 tahun
470 hari = 470 ÷ 365 = 1 tahun + 105 hari
105 hari   =    3 bulan + 15 hari

Waktu yang dilewati adalah : 15 hari + 3 bulan + 2013 tahun (1 + 2012), waktu yang berjalan adalah : hari ke 15, bulan ke 04 dan
tahun 2014. Jadi, tanggal Tanggal 15 Jumadil Akhir 1435 H. atau 15 - 06 - 1435 H. bertepatan dengan hari Senin Pon, tanggal 15 April 2014 M.

[1] Jumlah kabisat dalam 22 tahun yaitu tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16,
 18, 21 tetapi ada variasi lain untuk urutan tahun kabisat selain ini
(diantaranya yaitu tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 19, 21)
[2] Yaitu 10 hari koreksi penanggaln oleh paus gregorius ditambah jumlah angka
 abad yang tidak habis dibagi 4 sejak 1582 yaitu abad 17, 18, 19 sehingga : 10 + 3 = 13

3.      Menyiapkan data astronomis dari Ephemeris.
Siapkan data ephemeris tanggal 15 April 2014 M. sesuai hasil konversi.Bila dalam tanggal
tersebut tidak terjadi FIB terbesar, maka gunakan data Ephemeris satu hari setelahnya.

1.      Pada tanggal 15 April 2014 FIB terbesar adalah 0.999992896628268 terjadi pada
 jam 8 GMT.Pada jam 8 GMT tersebut, harga mutlak Lintang bulan pada
kolom Apparent Latitude bulan sebesar  0° 16' 33.6” . Harga ini  lebih kecil dari1° 0' 24” ,
sehingga pada saat itu  benar akan terjadi gerhana bulan.



Kriteria menentukan adanya gerhana adalah :
1.         Jika harga mutlak lintang bulan lebih besar dari 1° 05’ 07” maka tidak akan terjadi gerhana bulan
2.         Jika harga mutlak lintang bulan lebih kecil dari 1° 00’ 24” maka pasti terjadi gerhana bulan
3.         Jika harga mutlak lintang bulan lebih kecil dari 1° 05’ 07” dan lebih besardari 1° 00’ 24” maka ada kemungkinan terjadi gerhana bulan

5.      Menghitung waktu istiqbal

a.       Sabaq matahari
ELM jam 8  = 25° 17' 0.3”
ELM jam 9  = 25° 19' 27.2”   -
B1     =  -0° 2' 26.9”

b.      Sabaq bulan
ALB jam 8  = 205° 24' 57.8”
ALB jam 9  = 205° 57' 47.2”   -
B2     =  -0° 32' 49.4”

c.       Jarak matahari dan bulan
MB = ELM – (ALB – 180)
   = 25° 17' 0.3”    (205° 24' 57.8”  – 180 )
25° 17' 0.3”  – (25° 24' 57.8” )
MB =   -0° 7' 57.5”

d.      Sabaq bulan ma’addal
SB = B2– B1
-0° 32' 49.4”  – -0° 2' 26.9”
SB =  -0° 30' 22.5”

e.       Titik istiqbal
Titik Istiqbal = MB ÷ SB
-0° 7' 57.5”  ÷ -0° 30' 22.5”
Titik Istiqbal = 0° 15' 43.3”

f.       Istiqbal            = Waktu FIB + Titik istiqbal – 00° 01’ 49.29”    
Waktu FIB      = 8 : 00 : 00
Titik istiqbal   =   0° 15' 43.3”  +
                        8 : 15 : 43.3
koreksi librasi (nilai konstan)    = 00° 01’ 49.29” –
Istiqbal          = 8 : 13 : 54 GMT

6.      Melacak data:

a.       Semidiameter bulan (SDC)
SDC jam 8    = 0° 15' 31.1”
SDC jam 9  = 0° 15' 31.5”
Maka hasil interpolasi adalah : 00° 15' 31.1”  - (00° 15' 31.1”  - 00° 15' 31.5” ) x 02 : 46 : 6 / 1 = 0° 15' 30”

b.      Horizontal Parallaks bulan (HPC)
HPC jam 8    = 0° 56' 56.8”
HPC jam 9  = 0° 56' 58.2”
Maka hasil interpolasi adalah : 00° 56' 56.8”  - (00° 56' 56.8”  - 00° 56' 58.2” ) x 02 : 46 : 6 / 1 = 0° 56' 52.8”
c.       Lintang bulan (LC)
LC jam 8    = 0° 16' 33.6”
LC jam 9  = 0° 13' 31.7”
Maka hasil interpolasi adalah : 00° 16' 33.6”  - (00° 16' 33.6”  - 00° 13' 31.7” ) x 02 : 46 : 6 / 1 = -0° 24' 57”

d.      Semidiameter matahari (SDo)
SDO jam 8    = 0° 15' 58.4”
SDO jam 9  = 0° 15' 58.4”
Maka hasil interpolasi adalah : 00° 15' 58.4”  - (00° 15' 58.4”  - 00° 15' 58.4” ) x 02 : 46 : 6 / 1 = 0° 15' 58.5”

e.       Jarak bumi (JB) ==> True Geocentric Distance
JB jam 8    = 1.00323386988641
JB jam 9  = 1.00324557700246
Maka hasil interpolasi adalah : 1.00323386988641 - (1.00323386988641 - 1.00324557700246) x 02 : 46 : 6 / 1 = 1.00320146059551

7.      Horizontal Parallaks (HPO)
Sin HPO  = sin 08.794” ÷ JB
= sin 00° 00’ 08.794” ÷ 1.00320146059551
    HPO = 00° 00' 8.8”
8.      Jarak bulan dari titik simpul (H)
Sin H = sin LC ÷ sin 5°
= sin -0° 24' 57”  ÷ sin 5°
H   = -04° 46' 35.5”
9.      Lintang bulan maksimum terkoreksi (U)
tan U= [tan LC÷ sin H]
= [tan -0° 24' 57”  ÷ sin -04° 46' 35.5” ]
   U = 04° 58' 52.3”
10.  Lintang bulan minimum terkoreksi (Z)
sin Z = [sin U × sin H]
= [sin 04° 58' 52.3”  × sin -04° 46' 35.5” ]
  Z   = 00° 24' 51.3”
Z dan U diambil nilai mutlaknya
11.  Koreksi kecepatan bulan relatif terhadap matahari (K)
K  = cos LC × SB ÷ cos U
= cos -0° 24' 57”  × -0° 30' 22.5”  ÷ cos 04° 58' 52.3”
K  = -00° 30' 29.4”
12.  Besar semidiameter bayangan inti bumi (D)
D            = (HPC + HPO – SDo) × 1.02
(0° 56' 52.8” + 00° 00' 8.8”  - 0° 15' 58.5” ) * 1.02
D            = 00° 41' 52.3”
13.  Jarak titik pusat bayangan inti bumi sampai titik pusat bulan ketika piringan bulan mulai bersentuhan dengan inti bumi (X)
X            = D + SDƒ
00° 41' 52.3”  + 0° 15' 30”
X   = 00° 57' 22.3”
14.  Jarak titik pusat bayangan inti bumi sampai titik pusat bulan ketika seluruh piringan bulan mulai masuk pada bayangan inti bumi (Y)
Y   = D – SDƒ
00° 41' 52.3”  - 0° 15' 30”
Y  = 00° 0' 24.1”

Catatan : Bila Y lebih kecil daripada Z maka akan terjadi gerhana bulan sebagian sehingga
E dan T2 berikut ini tidak perlu dihitung. Bila Y lebih besar daripada Z maka akan
 terjadi gerhana total sehingga E dan T2 berikut ini harus dihitung.

Dari hitungan di atas Y lebih Kecil daripada Z sehingga terjadi gerhana sebagian, maka E dan T2 berikut ini tidak perlu dihitung.

15.  Jarak titik pusat bulan ketika piringan bulan mulai bersentuhan dengan bayangan
 inti bumi sampai titik pusat bulan saat segaris dengan bayangan inti bumi (C)
cos C= cos X ÷ cos Z
cos  00° 57' 22.3”  ÷ cos  00° 24' 51.3”
cos C   =  00° 51' 42.5”

16.  Waktu yang diperlukan bulan untuk berjalan mulai ketika piringan bulanbersentuhandengan
 bayangan inti bumi sampai ketika titik pusat bulan segaris dengan bayangan inti bumi (T1)

DOWNLOAD EPHEMERIS5.5, 
cara tracking gerhana matahari Jum'at Wage tanggal 10 Mei 2013 M.































TRACKING GERHANA MATAHARI hari Jum'at Wage Tgl. 9 – 10 Mei 2013
Digarap di Ephemeris5.5.xls oleh Burhan Rosyidi.
http://www.facebook.com/download/519496958086279/Ephemeris5.5.xls
GERHANA MATAHARI Tgl. 9-10 Mei 2013 M.


0
Mulai Penumbra :
21:27:15.09 UT

4
Mulai Umbra     :
22:27:23.93 UT

12
Puncak Gerhana :

0:27:41.61 UT
di titik   1° 59' 30.61",   174° 54' 20.84"
20
Akhir Umbra     :
2:27:59.29 UT

24
Akhir Penumbra :
3:28:8.13 UT


Kedudukan :





sumbu bayangan berada di Bairiki ( 1° 19' 32" T, U 172° 59' 0" )

Gerhana dapat terlihat dari JAYAPURA INDONESIA



sekarang tracking        2

Gerhana tidak akan dapat terlihat dari CIANJUR INDONESIA



sekarang tracking        2




Langkah2 Perhitungan
2.
DATA YANG DIPERLUKAN UNTUK PERHITUNGAN GERHANA MATAHARI

No. Rank
12

Jam
0:27:41.61 UT

Perata Waktu (Pm)
0.059936892

asensiorekta matahari (am)
47.08425119

asensiorekta bulan (ab)
47.12949668

deklinasi matahari (dm)
17.61265937

deklinasi bulan (db)
17.36852835

jarak matahri-bumi (jm)
23710.25323

jarak bulan-bumi (jb)
62.95173533

jari lingkaran matahari (rm)
109.9088

jari lingkaran bulan (rb)
0.27252

PROSES PERHITUNGAN


3.1. selisih assensiorekta (sa)
ab-am
0.045245491



3.2. Elongasi matahari-bulan (E)
COS = COS(sa) x COS(dm) x COS(db) + SIN(dm) x SIN(db)
0.247915691



3.3. jarak linier matahari-bulan (mb)
mb = Ѵ(jm2 + jb2 - 2 x jm x jb COS(E))
23647.30208



3.4. Sudut bulan dari bidang dasar (sb)
TAN = (jm x COS(E)-jb)/(jm x SIN(E))
89.75142433



3.5. Sudut matahari dari bidang dasar (sm)
E + sb
89.99934002



3.6. jarak linier bulan ke bidang dasar (bbds)
SIN(sb) x jb
62.95114289



3.7. Jarak sumbu bayangan bulan ke titik
COS(sb) x jb
0.273112971
pusat bumi di bidang dasar atau alas (a)
COS(sm) x jm
0.273112971

Ѵ( jb2 - bbds2)
0.273112971

Ѵ( jm2 - (bbds + mb)2)
0.273112949



Jika a > 1 ; Sumbu bayangan tidak menyentuh bumi,
Lanjutkan !
perhitungan tidak perlu dilanjutkan.





3.8. Sudut sumbu bayangan dari bidang
COS(ss) = a
74.15040891
    dasar (ss)





3.9. Jarak Sumbu bayangan dari proyeksi
sm - ss
15.84893111
     matahari di permukaan bumi (jsm)



3.10. Lintang proyeksi matahari di
lm = dm
17.61265937
        permukaan bumi (lm)





3.11. Bujur proyeksi matahari di


        permukan bumi (bm)
bm = - 15 x (UT + pw ) + 180
172.1775716


172.1775716



3.12. Azimuth proyeksi bulan dari
COS = (-SIN(dm) x COS(E) + SIN(db))
169.9688993
       proyeksi matahari (az)
           / (COS(dm) x SIN(E))




3.13. Lintang sumbu bayangan (lss)
SIN = COS(jsm) x SIN(dm) + SIN(jsm) x COS(dm) x COS(az)
1.991837333



3.14. Selisih asensiorekta sumbu bayangan
SIN = SIN(jsm) x SIN(az) / COS(lss)
2.728217588
           dengan matahari (assm)

2.728217588



3.15. Bujur sumbu bayangan (bss)
bm + assm
174.9057892



KESIMPULAN


Dari proses perhitungan di atas diketahui bahwa pada jam 0:27:41.61 UT atau 7 : 27 : 41.61 WIB, Tgl. 9-10 Mei 2013 M.
sumbu bayangan gerhana matahari jatuh di titik :  1° 59' 30.61" LU,  174° 54' 20.84" BT di Bairiki ( 1° 19' 32" T, 172° 59' 0" U )

Tracking 2
JAM
SUMBU
KOTA YANG DILEWATI
Lintang
Bujur
INTI BAYANGAN
Mulai Penumbra
21:27:15.09




21:42:17.3




21:57:19.51




22:12:21.72



Mulai Umbra
22:27:23.93




22:42:26.14
- 17° 38' 53.85"
  136° 41' 51"


22:57:28.35
- 12° 8' 50.98"
  147° 54' 3.57"


23:12:30.56
- 8° 25' 0.03"
  154° 37' 44.83"


23:27:32.77
- 5° 28' 59.48"
  159° 43' 25.13"


23:42:34.98
- 3° 4' 10.41"
  163° 59' 29.83"


23:57:37.19
- 1° 3' 15.68"
  167° 48' 28.76"


0:12:39.4
  0° 37' 22.97"
  171° 23' 38.57"
TARAWA KIRIBATI
Puncak Gerhana
0:27:41.61
  1° 59' 30.61"
  174° 54' 20.84"
Bairiki

0:42:43.82
  3° 3' 38.11"
  178° 28' 22.78"


0:57:46.03
  3° 49' 13.35"
  182° 13' 24.86"


1:12:48.24
  4° 14' 33.47"
  186° 18' 26.67"


1:27:50.45
  4° 16' 10.93"
  190° 56' 0.68"


1:42:52.66
  3° 47' 18.57"
  196° 27' 10.94"


1:57:54.87
  2° 32' 37.72"
  203° 37' 10.12"


2:12:57.08
- 0° 21' 24.69"
  215° 5' 20.06"

Akhir Umbra
2:27:59.29




2:43:1.5




2:58:3.71




3:13:5.92



Akhir Penumbra
3:28:8.13




Mulai Penumbra
21:27:15.09 UT

Mulai Umbra
22:27:23.93 UT

Puncak Gerhana
0:27:41.61 UT
di titik   1° 59' 30.61",   174° 54' 20.84"
Akhir Umbra
2:27:59.29 UT

Akhir Penumbra
3:28:8.13 UT




sumbu bayangan berada di Bairiki ( 1° 19' 32" T, 172° 59' 0" U )

5.
MEMPERKIRAKAN PUNCAK GERHANA PADA TITIK



913
JAYAPURA INDONESIA


Lintang :
2° 28' 0"

Bujur :
140° 38' 0"



jarak terdekat dari Sumbu bayangan =
COS = COS(SBjr) x COS(lt) x COS(lss) + SIN(lt) x SIN(lss)
16.30107745

Puncak Gerhana jam =
22:57:28.35 UT





Gerhana dapat terlihat dari Jayapura.


5.
MEMPERKIRAKAN PUNCAK GERHANA PADA TITIK



414
CIANJUR INDONESIA


Lintang :
6° 51' 0"

Bujur :
107° 8' 0"



jarak terdekat dari Sumbu bayangan =
COS = COS(SBjr) x COS(lt) x COS(lss) + SIN(lt) x SIN(lss)
30.78322513

Puncak Gerhana jam =
22:42:26.14 UT





Gerhana tidak akan dapat terlihat dari Cianjur.

___________________________________________________________________________________
Adakan perbandingan dengan Ephemeris yang lain :
        27.  Kesimpulan: (menurut ephemeris4.7)
       Gerhana  matahari cincin akan terjadi pada hari Jum'at Wage, 10 Mei 2013 M.
        a.       Mulai gerhana   = 4j 26m 15.6d  WIB
        b.      Mulai total    = 5j 27m 59.4d  WIB
        c.       Pertengahan gerhana  = 7j 27m 1.6d   WIB
        d.      Akhir total      = 9j 26m 3.8d  WIB
        e.       Akhir gerhana       = 10j 27m 47.7d  WIB
       Gerhana matahari Cincin ini  dapat disaksikan di Cianjur

CIANJUR, 3 Mei 2013 M.
APAKAYANK.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar